Apakah natur dari manusia? Kitab kejadian mengatakan
bahwa manusia dijadikan Allah menurut gambar
Allah. "Gambar Allah," menurut kitab Ibrani 1:13 adalah Yesus Kristus: "Ia adalah cahaya
kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah." Dengan kata lain, kita, manusia,
dicipta menurut Kristus.
Kristus adalah gambar dari substansi/Allah
Bapa yang tak terlihat. Substansi Allah adalah kasih (1 Yoh 1:8). Allah Bapa, Allah Anak
dan Roh Kudus adalah (komunitas) kasih.
Seturut hal ini, menjadi manusia yang dicipta menurut gambar Allah sama dengan menjadi sebuah komunitas yang di dalamnya kita saling "mengasihi"
dan "dikasihi." Dengan seperti itu, dunia akan tahu bahwa kita memang adalah murid-murid Kristus.
Bagi Rasul Paulus, iman, kasih dan pengharapan adalah
yang akan tetap tinggal nanti, tetapi yang terbesar dianataranya ialah kasih. Agustinus menyatakan bahwa kasih kita kepada Subjek tertentu bersifat mendasar bagi pengharapan, dan pengharapan bersifat mendasar bagi iman kita. Kasih adalah yang mendefinisikan manusia dan dan indentitasnya. Masalahnya adalah Siapakah yang kita kasihi?
Setelah kejatuhan manusia dalam dosa, natur manusia
sebagai makhluk yang mengasihi tidak rusak, tetapi jatuh mengarah kepada yang bukan Allah, melainkan ciptaan –ciptaan yang
sesungguhnya dijadikan untuk menggambarkan kemuliaan Allah! Masalah kasih ini
tentu bukan sekedar masalah intelektual atau teknik ber-rasionalitas, seakan
kasih kita bisa diarahkan kembali/ditebus oleh kemuthakiran rasio manusia. Sejatinya, masalah kejatuhan ini adalah masalah cinta
kasih, iman, pengharapan. Ini masalah komitmen, penyembahan dan pemberhalaan.
Bagi orang modern, natur essensial manusia adalah
rasionalitas, atau kemampuan berpikir. Kata mereka, “Sebelum Anda mengasihi subjek
tertentu, berpikir dan analisalah terlebih dahulu: Apakah seseorang tersebut
layak untuk dikasihi atau tidak?” Dengan kata lain, rasiolah yang mendasari
kasih dan lebih besar dari kasih. Rasio mengkontrol kasih manusia kepada yang
lain. “Pertama-tama: berpikirlah! We are what we think” Kata mereka. Descartes menegaskan hal tersebut dengan mengatakan,
“I think therefore I am,” yang artinya “Saya berpikir maka saya ada.”
Tapi
masalahnya, hal ini tidak sesuai dengan Alkitab dan juga keberadaan kita. Di
dalam keberadaan sehari-hari, kita tidak terus-menerus berpikir secara sadar supaya
tetap ada dan berfungsi dalam realita sosial. Perhatikanlah keseharian kita:
Pagi–pagi bangun, mandi, sarapan, pergi ke sekolah, mengajar, berinteraksi
dengan kolega, murid, pulang ke rumah bertemu keluarga atau kolega, makan,
minum dan melakukan hal-hal lain. Semua terjadi secara cukup ‘otomatis,’ bukan? Ketika jalan pulang dari sekolah, kita lebih
sering tidak berpikir tentang jalan mana yang harus ditempuh,
tetapi secara intuitif kita
berjalan dan (alas!) tiba di rumah. Bahkan, mungkin juga kita lupa
lewat jalan mana kita tadi.
Fakta ini menerangkan bahwa kita selalu sudah berada-dalam-dunia, di dalam kebiasaan tertentu, di dalam konteks
kebudayaan tertentu, di dalam asumsi dunia tertentu, sebelum berpikir secara sadar. Kita sudah langsung berada dalam kondisi tertentu, terlibat
dan ‘tergenggam’ dalam praktik-praktik sosial/kebudayaan. Di dalam ‘ketergenggaman’ itulah manusia
berpikir.
Menurut Alkitab, pertama-tama, yang mendasar atau
essensial di dalam menjadi manusia adalah kasih, bukan pikiran. Menjadi manusia
sama dengan mengasihi Subjek tertentu secara mutlak. Di dalam diri kita, selalu telah
ada “kasih” atau hasrat, pengharapan dan iman kepada Subjek (“Subjek” dengan
huruf besar dimaksudkan sebagai subjek yang kita anggap sebagai mutlak). Dengan
kata lain, manusia itu selalu sudah “menyembah” atau memuja-muji sesuatu dengan
hati/kasih kita yang terdalam. Kasih merupakan titik kontak yang paling primitif antara
manusia dengan yang Lain, bukan berpikir tentang yang Lain tersebut.
Natur manusia (mengasihi) ini bekerja pada pada level
pra-kesadaran/refleksi, yaitu sebelum kita berpikir. Apa
yang kita pikirkan secara sadar itu seperti puncak dari sebuah gunung es: Ada hal
yang lebih mendasar, yang tidak kita sadari, yang menggerakkan pemikiran,
perkataan dan kebiasaan kita seturutnya. Jadi, pikiranlah yang sebenarnya dibatasi dan didasari oleh kasih, bukan sebaliknya.
Di dalam perspektif inkarnasional, “kasih” atau
spiritualitas sebagai esensi dari manusia tidak dipahami secara pikiran abstrak,
tetapi secara riil, faktual, praktika dan panca inderawi. Allah selalu mewahyukan kasihNya kepada manusia melalui
hal inderawi (dunia ciptaan), yang secara ultimat dinyatakan di dalam Inkarnasi Kristus.
Implikasinya,
kasih (kita kepada Allah) tidak boleh dipahami secara abstrak (dengan berangkat
dari rasio murni, atau axiom atau titik tolak yang bersifat abstrak), tetapi secara
penuh/utuh dari apa yang kita hidupi secara kongkret dalam keseharian kita. Di dalam sekolah, kasih kita terefleksikan di dalam karya-karya kita, praktik-praktik pendidikan di dalam dan luar kelas, di dalam bagaimana kita meng-ases murid-murid, peraturan yang kita buat, dll.
“Mengasihi” tidak beroperasi atau bermula dari kecenderungan
sistematis atau teori abstrak, tetapi di dalam situasi dan praktik kehidupan (sekolah) yang
konkrit.
Apakah natur dari manusia? Kitab kejadian mengatakan
bahwa manusia dijadikan Allah menurut gambar
Allah. "Gambar Allah," menurut kitab Ibrani 1:13 adalah Yesus Kristus: "Ia adalah cahaya
kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah." Dengan kata lain, kita, manusia,
dicipta menurut Kristus.
Kristus adalah gambar dari substansi/Allah
Bapa yang tak terlihat. Substansi Allah adalah kasih (1 Yoh 1:8). Allah Bapa, Allah Anak
dan Roh Kudus adalah (komunitas) kasih.
Seturut hal ini, menjadi manusia yang dicipta menurut gambar Allah sama dengan menjadi sebuah komunitas yang di dalamnya kita saling "mengasihi"
dan "dikasihi." Dengan seperti itu, dunia akan tahu bahwa kita memang adalah murid-murid Kristus.
Bagi Rasul Paulus, iman, kasih dan pengharapan adalah
yang akan tetap tinggal nanti, tetapi yang terbesar dianataranya ialah kasih. Agustinus menyatakan bahwa kasih kita kepada Subjek tertentu bersifat mendasar bagi pengharapan, dan pengharapan bersifat mendasar bagi iman kita. Kasih adalah yang mendefinisikan manusia dan dan indentitasnya. Masalahnya adalah Siapakah yang kita kasihi?
Setelah kejatuhan manusia dalam dosa, natur manusia sebagai makhluk yang mengasihi tidak rusak, tetapi jatuh mengarah kepada yang bukan Allah, melainkan ciptaan –ciptaan yang sesungguhnya dijadikan untuk menggambarkan kemuliaan Allah! Masalah kasih ini tentu bukan sekedar masalah intelektual atau teknik ber-rasionalitas, seakan kasih kita bisa diarahkan kembali/ditebus oleh kemuthakiran rasio manusia. Sejatinya, masalah kejatuhan ini adalah masalah cinta kasih, iman, pengharapan. Ini masalah komitmen, penyembahan dan pemberhalaan.
Bagi orang modern, natur essensial manusia adalah
rasionalitas, atau kemampuan berpikir. Kata mereka, “Sebelum Anda mengasihi subjek
tertentu, berpikir dan analisalah terlebih dahulu: Apakah seseorang tersebut
layak untuk dikasihi atau tidak?” Dengan kata lain, rasiolah yang mendasari
kasih dan lebih besar dari kasih. Rasio mengkontrol kasih manusia kepada yang
lain. “Pertama-tama: berpikirlah! We are what we think” Kata mereka. Descartes menegaskan hal tersebut dengan mengatakan,
“I think therefore I am,” yang artinya “Saya berpikir maka saya ada.”
Tapi masalahnya, hal ini tidak sesuai dengan Alkitab dan juga keberadaan kita. Di dalam keberadaan sehari-hari, kita tidak terus-menerus berpikir secara sadar supaya tetap ada dan berfungsi dalam realita sosial. Perhatikanlah keseharian kita: Pagi–pagi bangun, mandi, sarapan, pergi ke sekolah, mengajar, berinteraksi dengan kolega, murid, pulang ke rumah bertemu keluarga atau kolega, makan, minum dan melakukan hal-hal lain. Semua terjadi secara cukup ‘otomatis,’ bukan? Ketika jalan pulang dari sekolah, kita lebih sering tidak berpikir tentang jalan mana yang harus ditempuh, tetapi secara intuitif kita berjalan dan (alas!) tiba di rumah. Bahkan, mungkin juga kita lupa lewat jalan mana kita tadi.
Tapi masalahnya, hal ini tidak sesuai dengan Alkitab dan juga keberadaan kita. Di dalam keberadaan sehari-hari, kita tidak terus-menerus berpikir secara sadar supaya tetap ada dan berfungsi dalam realita sosial. Perhatikanlah keseharian kita: Pagi–pagi bangun, mandi, sarapan, pergi ke sekolah, mengajar, berinteraksi dengan kolega, murid, pulang ke rumah bertemu keluarga atau kolega, makan, minum dan melakukan hal-hal lain. Semua terjadi secara cukup ‘otomatis,’ bukan? Ketika jalan pulang dari sekolah, kita lebih sering tidak berpikir tentang jalan mana yang harus ditempuh, tetapi secara intuitif kita berjalan dan (alas!) tiba di rumah. Bahkan, mungkin juga kita lupa lewat jalan mana kita tadi.
Fakta ini menerangkan bahwa kita selalu sudah berada-dalam-dunia, di dalam kebiasaan tertentu, di dalam konteks
kebudayaan tertentu, di dalam asumsi dunia tertentu, sebelum berpikir secara sadar. Kita sudah langsung berada dalam kondisi tertentu, terlibat
dan ‘tergenggam’ dalam praktik-praktik sosial/kebudayaan. Di dalam ‘ketergenggaman’ itulah manusia
berpikir.
Menurut Alkitab, pertama-tama, yang mendasar atau
essensial di dalam menjadi manusia adalah kasih, bukan pikiran. Menjadi manusia
sama dengan mengasihi Subjek tertentu secara mutlak. Di dalam diri kita, selalu telah
ada “kasih” atau hasrat, pengharapan dan iman kepada Subjek (“Subjek” dengan
huruf besar dimaksudkan sebagai subjek yang kita anggap sebagai mutlak). Dengan
kata lain, manusia itu selalu sudah “menyembah” atau memuja-muji sesuatu dengan
hati/kasih kita yang terdalam. Kasih merupakan titik kontak yang paling primitif antara
manusia dengan yang Lain, bukan berpikir tentang yang Lain tersebut.
Natur manusia (mengasihi) ini bekerja pada pada level
pra-kesadaran/refleksi, yaitu sebelum kita berpikir. Apa
yang kita pikirkan secara sadar itu seperti puncak dari sebuah gunung es: Ada hal
yang lebih mendasar, yang tidak kita sadari, yang menggerakkan pemikiran,
perkataan dan kebiasaan kita seturutnya. Jadi, pikiranlah yang sebenarnya dibatasi dan didasari oleh kasih, bukan sebaliknya.
Di dalam perspektif inkarnasional, “kasih” atau
spiritualitas sebagai esensi dari manusia tidak dipahami secara pikiran abstrak,
tetapi secara riil, faktual, praktika dan panca inderawi. Allah selalu mewahyukan kasihNya kepada manusia melalui
hal inderawi (dunia ciptaan), yang secara ultimat dinyatakan di dalam Inkarnasi Kristus.
Implikasinya, kasih (kita kepada Allah) tidak boleh dipahami secara abstrak (dengan berangkat dari rasio murni, atau axiom atau titik tolak yang bersifat abstrak), tetapi secara penuh/utuh dari apa yang kita hidupi secara kongkret dalam keseharian kita. Di dalam sekolah, kasih kita terefleksikan di dalam karya-karya kita, praktik-praktik pendidikan di dalam dan luar kelas, di dalam bagaimana kita meng-ases murid-murid, peraturan yang kita buat, dll.
“Mengasihi” tidak beroperasi atau bermula dari kecenderungan sistematis atau teori abstrak, tetapi di dalam situasi dan praktik kehidupan (sekolah) yang konkrit.
Implikasinya, kasih (kita kepada Allah) tidak boleh dipahami secara abstrak (dengan berangkat dari rasio murni, atau axiom atau titik tolak yang bersifat abstrak), tetapi secara penuh/utuh dari apa yang kita hidupi secara kongkret dalam keseharian kita. Di dalam sekolah, kasih kita terefleksikan di dalam karya-karya kita, praktik-praktik pendidikan di dalam dan luar kelas, di dalam bagaimana kita meng-ases murid-murid, peraturan yang kita buat, dll.
“Mengasihi” tidak beroperasi atau bermula dari kecenderungan sistematis atau teori abstrak, tetapi di dalam situasi dan praktik kehidupan (sekolah) yang konkrit.
No comments:
Post a Comment